Banyak orang membayangkan segala sesuatu itu harus indah di mata siapa pun, termasuk diriku. Ada yang banyak ingin aku sampaikan dari apa yang aku miliki. Aku tak ingin apa yang aku miliki tak ada gunanya di mata orang lain, tak terkecuali kepada sahabat kecilku, Sashy. Aku dan dia punya banyak kesamaan dalam hal bagaimana melihat kebahagiaan. Kendati kami berdua punya berbedaan dalam mengahadapi ujian Tuhan, sakit. Sakit kami sangat istimewa dan bahkan menjadi banyak perdebatan di kalangan medis.
Suatu saat dalam sebuah perbincangan di kalangan medis tentang penyakit kami. Hal itu, sudah sering kami dengar dan sikapi dengan lapang dada. Bagi kami, hanya Tuhan sandaran kami, karena Dia yang memberi kami sakit dan hanya Dia yang menyembuhkannya.
“Akhir-akhir ini kita sering membuat diagnosis yang membuat para pasien kita sering kehilangan kendali menghadapi penyakitnya,” dr. Litta Dyah, Sp.PD-KR mengawali paparannya.
“Benar Dok, dalam analasis kami, kita butuh kombinasi penangan medis terhadap penyakit yang satu ini. Paling tidak ada kontribusi dari dokter ahli jiwa atau setidaknya psikiater,” tambah dr. Awalia, Sp.PD-KR menambahkan paparannya.
“Ya, tapi kita memang butuh penangan yang serius terhadap pasien kita terhadap penyakit yang dideritanya. Sudah semestinya pasien kita mendapatkan penangan medis yang lebih dibandingkan pasien-pasien penyakit dalam lainnya. Penyakit ini terlalu isitimewa, karena menyangkut masa depan pasien agar tetap survive dalam berbagai situasi dan kondisi,” papar dr. Yuliasih, Sp.PD-KR.
Dokter yang terakhir ini memang ahli dalam penyakit SLE (Systemic Lupus Erythematosus) dan orang lebih mengenalnya dengan nama penyakit lupus. Beliau adalah senior di antara para dokter penyakit dalam khusus bidang rhaemathologi yang ada di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Beliau mengabdikan dirinya di bidang penganan penyakit SLE atau Lupus ini sejak mengambil spesialis penyakit dalam bersama seniornya, Prof. dr. Yuwono, Sp.PD-KR.
***
Hari ini kebahagiaanku sungguh di luar kebiasaan. Kebahagiaanku adalah beberapa teman madrasah ibtidaiyah-ku dulu memberi komentar terhadap hasil make up-ku di media sosial, instragram.
“Nggak nyangka kamu bisa melakukan seperti lagaknya seorang profesional di dunia make up, Nggun!” komentar Ainy.
“Ya Anggun, aku melihat kamu punya bakat besar dalam seni make up,” tambah Zahra.
“Wah, kalau begini ... kamu bisa buka orderan make up, Nggun!” sahut Neira.
Dalam hati kecilku, semua yang memberikan komentar terhadap hasil make up yang aku kerjakan, suatu saat mereka semua harus bisa aku jadikan model untuk make up-ku. Aku ingin sekali tunjukkan pada mereka, bahwa aku mampu memberikan yang terbaik pada mereka untuk merasakan hasil make up-ku.
“Ainy, bisa nggak kamu Minggu besok ini datang ke rumahku?” pintaku.
“Ada apa Nggun, kok mendadak undangannya?” tanya Ainy.
“Aku berikan kejutan khusus buat kamu, datang ya?” harapku.
“Ok, pasti Nggun ... Aku akan hadir di rumahmu,” jawab Ainy.
“Hallo Zahra, Minggu besok Ainy mau datang ke rumahku. Kamu datang juga, ya?” pintaku.
“Wah, mau ngasih kejutan apa, Nggun ... kok mendadak?” tanya Zahra.
“Pasti dung, pokoknya datang, ya?”pintaku.
“Ya Nggun, insya Allah aku datang kok,” jawab Zahra.
“Neira ... Minggu besok ini kamu ada acara apa nggak?” tanyaku.
“Ada acara apa, Nggun?” tanya Neira.
“Sudahlah ... yang penting kehadiranmu akan membawa kesan yang indah,” jawabku.
“Wah, buat penasaran saja kamu, Nggun. Ok, aku pasti datang,” jawab Neira.
Betapa bahagianya hatiku, ketiga sahabat madrasah ibtidaiyah-ku menyanggupi kehadirannya di rumahku untuk menerima surprise dariku. Aku akan tunjukkan pada mereka, bahwa apa yang biasa mereka lihat di instragramku akan menjadi pengalaman yang indah bagi mereka. Apalagi nanti hasil make up-ku pada mereka akan aku abadikan dalam dunia media sosial, instragram-ku. Betapa bangganya mereka.
***
Hari ini Bojonegoro panasnya sungguh luar biasa. Apalagi sudah hampir empat bulan belum ada tanda-tanda langit menumpahkan airnya di Bumi Angling Dharma ini. Saat bersamaan kegiatanku hari ini benar-benar menguras habis energiku. Bagaimana tidak? Hari ini memang sangat melelahkan. Aku menyiapkan laporan profile guru untuk edisi majalah Lentera di penghujung tahun 2019 ini.
“Aduh bagaimana ini, Nizar? Aku harus selesaikan laporan profile guru untuk mengisi satu bagian penting dari edisi majalah Lentera di akhir tahun ini,” keluhku pada Nizar.
“Santai Nggun ... yang semua data dan foto yang kamu butuhkan untuk mengisi profile guru sudah kamu siapkan semua,” jawab Nizar meyakinkanku.
“Ya sih, Zar ... Cuma saat Pak Ahmad Thohari menanyakan padaku kemarin, aku sempat kaget. Sebab data dan foto hasil wawancaraku dengan Pak Hamzad Bustomi mungkin bisa batal seratus persen,” kataku.
“Loh, memangnya kenapa, Nggun?” tanya Nizar penuh heran.
“Dua hari setelah aku dapatkan data dan foto beliau ... Eh, ternyata beliau memanggilku dan menyampaikan kalau beliau membatalkan data dan foto beliau untuk tidak dimuat di profile guru dalam majalah Lentera,” jelasku pada Nizar dengan nada agak emosional.
“Lha terus ... siapa nanti yang kamu jadikan bahan berita di profile guru?” tanya Nizar lagi.
“Aku nggak tahu, Zar ... Pusing banget aku, Zar. Belum lagi Pak Ahmad Thohari berikan deadline ngumpulan cerpen dalam minggu ini. Juga Pak Budi Sulistyo, aku harus remidi mapel matematika umum dua KD (Kompetensi Dasar) dari empat KD yang keluar di semester ini,” jelasku sambil mataku terasa berkunang-kunang.
***
“Loh ... di mana aku ini?” tanyaku dengan nada keheranan
“Kamu di rumah sakit, Kak. Kamu tadi pingsan di sekolah. Hasil Laboratorium HB (Haemoglobin)-mu sebesar 7,0 g/d,” jelas ibuku.
Sebuah titik ukuran rendah, jika titik normal HB untuk wanita, yakni antara 10,1-13,1 g/d (gram per detik). Akupun pernah mengalami kondisi HB sampai pada titik 6,3 g/d. Jika dihitung, sampai masuknya aku di rumah sakit ini dari sejak aku terdiagnosis SLE. Aku sudah menghabiskan kurang lebih delapan belas kantong darah.
“Kamu membutuhkan tiga kantong darah. Sedangkan stok darah di UTD PMI (Unit Transfusi Darah – Palang Merah Indonesia) Bojonegoro untuk jenis darah O resus + lagi kosong. Sekarang Abimu ke Surabaya untuk mencari jenis darah tersebut,” jelas ibuku dengan suara khasnya.
“Ya, semoga Abimu dapatkan jenis darah itu, Ndhuk,”tambah Budhe Yanti.
“Kamu butuh istirahat, Kak. Sebab kamu kelihatan capek setelah beberapa kegiatan dan tugas yang harus kamu selesaikan dalam waktu bersamaan,” tambah Tante Mitha.
Aku kembali berada di ruang rawat inap flamboyan di RSUD dr. Sosrodoro Djatikusumo Bojonegoro. Mengulang kejadian yang sama setahun yang lalu. Aku harus meninap selama lima belas hari dan harus menerima trasfusi darah sebanyak tiga kantong darah.
Setiap orang yang membesukku di RS dapat dipastikan selalu bertanya, “Mengapa harus transfusi darah yang aku terima? Kok tidak seperti pasien lain yang hanya menerima infus berupa NaCl (Natrium Clorida) atau obat cair lainnya yang dimasukkan melalui jarum dan selang infus?”. Semua akan terjawab, jika mereka memahami tentang penyakitku.
Ada sebuah kondisi mana kala aku akan mengalami hal seperti ini. Bahwa aku tidak boleh capek dan stres dalam mengerjakan dan menghadapi segala aktivitas dan ritinitasku sehari-hari. Ada satu lagi yang berat, aku punya kebiasaan yang mungkin rata-rata dimiliki para penyandang odapus lainnya. Odapus (orang berdampak lupus) sangat sensitif terhadap segala hal yang membuat hati dan perasaan terbawa arus pada setiap situasi dan kondisi yang tidak nyaman. Kendati itu hanya sebuah pembicaraan kecil yang barangkali pandangan orang lain itu biasa saja. Tapi, hal itu tidak bagi para odapus.
“Ya sih ... pekerjaan dan tugasku dalam minggu sangatlah padat dan juga dikejar target semua,” bantahku meyakinkan ibuku dan Budhe Yanti.
“Ya Kak, tapi kali ini kamu butuh istirahat yang. Bahkan dr. David Daharmawan, Sp.PD. bilang kamu paling tidak harus istirahat total selama seminggu. Jika tidak, maka kamu akan terus menanggung sendiri akibatnya. Yakni akan terus menerima transfusi darah. Jenis darahmu sendiri agak susah carinya,” jelas ibuku dengan nada jengkel.
Kalau sudah mendengar nama dokter yang disebutkan ibuku ini. Aku tidak mau bantah. Sedikit banyak keputusasaan yang pernah aku alami akibat penyakitku ini, bangkit berkat nasihat dr. David Hermawan, Sp.PD. ini. Beliau pernah menyampaikan, bahwa orang yang diuji oleh Tuhan dengan penyakit kategori ‘gawat’ sejenis penyakitku ini adalah benar-benar orang-orang yang dipilih Tuhan. Sebab Tuhan tidak akan memberikan penyakit ini pada siapapun kecuali pada hamba pilihannya yang mampu menerimanya.
“Semua itu tinggal bagaimana kita, bisa apa tidak kita menerima ujian itu dengan lapang dada? Yakni, dengan tetap semangat dalam menghadapi ujian ini dan berusaha untuk sembuh dari penyakitnya. Tentunya harus diimbangi dengan bermohon kesembuhan dan kesehatan hanya pada-Nya,” jelas dr. David Hermawan, Sp.PD. kala itu padaku.
***
Tiga hari berlalu aku keluar dari opname di RSUD dr. Sosrodoro Djatikusumo, Aku harus memulai pelan-pelan terhadap tugas dan kewajinbanku yang tertunda. Alhamdulillah, satu persatu aku gunakan skala prioritas, mana tugas dan kewajibanku yang mendesak dan mana yang bisa aku kerjakaan berikutnya.
Aku bisa bernafas agak lega, ternyata Pak Imam Ghazali guru mapel PAI (Pendidikan Agama Islam)-ku menyanggupi untuk aku liput dan wawancarai terkait data isian pada profile guru dalam majalah Lentera edisi akhir tahun ini. Begitu pula dengan tugas menyusun cerpen dari Pak Ahmad Thohari, kemungkinan tinggal menyelesaikan tahapan ending ceritanya. Sedangkan untuk remidi dua KD mapel matematika umumnya Pak Budi Sulistyo baru dapat aku selesaikan satu KD. Jadi, tinggal satu KD lagi.
“Alhamdulillah ... terima kasih Ya Allah. Semoga Engkau berikan kemudahan pada setiap usaha dan jerih payahku,” kataku dalam hati sembari menghela napasku dengan lega.
Bagai disambar petir di siang bolong, aku mendengar kabar bahwa sahabat kecilku Sashy telah menghembuskan nafas terakhir. Kabar terakhir dari keluarganya, penyakit lupusnya menyerang jantung dan ginjalnya.
“Innalillahi wa_inna ilaihi raaji’uun ... Ya Allah lapangkan jalan kepulangan Sashy ke hadirat-Mu. Ampuni segala khilaf dan salahnya dan terimalah segala amal baiknya dan berikan dia akhir yang baik dalam hidupnya dengan membawa husnul khatimah,” pintaku untuk Sashy.
Kepulangan Sashy ini sempat membuatku shok. Terbayang kebersamaan kami dalam menyalurkan hobby kita yang memiliki kesamaan.
“Sudahlah sayang ... kamu harus terima kepulangan Sashy. Lihat aku, aku ikhlaskan kepergian anakku tercinta demi kebaikannya juga. Sebab aku pun merasa kasihan kalau teringat akan keluhan sakitnya seminggu terakhir ini,” cerita Tante Siska dengan mata berkaca-kaca.
Tante Siska adalah ibunda Sashy sekaligus sebagai sahabat dan kakak kami dalam grup Graha Kupu-kupu yang sekaligus sebagai pembina yang selalu mengayomi dan memotivasi para odapus untuk selalu bersemangat. Kendati Tuhan memberikan ujian sakit yang dapat dikatakan tidak ringan. Beliau juga sebagai odapus sejak lima belas tahun lalu saat mengandung Sashy dan masih survive hingga kini.
“Ya Tante ... semoga Sashy bahagia di lembar kehidupan keduanya,” isakku tak terbendung.
“Sudah sayang ... sudah. Keikhlasan kita adalah kebahagiaan dia juga di alam barzah. Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik bagi Sashy tercinta,” tambah Tante Siska dengan nada tegar.
Aku yakin, suatu saat nanti akan terus hadir Sashy-Sashy baru yang cakap dan terampil dalam make up dan fotografi. Begitu pula dengan Graha Kupu-kupu sebagai wadah kebersamaan para odapus yang akan terus menelurkan kebermanfaatan dan kebahagiaan bagi siapa pun. Ibarat kupu-kupu yang melakukan metamorfosis, dari satu bentuk kebaikan ke bentuk kebaikan lainnya. Akupun teringat sajak terakhir Sashy yang ditulis khusus untukku setahun yang lalu ...
Tanah Basah
Buat Kak Anggun
ingin mencium tanah basah
meski lama kian harap tak tiba pernah
berarak awan jadi gumpalan,
tak mesti mendung rebak hujan
adakalanya gugur daun dari reranting
tak menjadi harapan tanah
dan selokan kering
kendati musnah, terus kan tumbuh
bunga warna peneduh
Lamongan, 10 November 2018
~ selesai ~
Tentang Penulis:
Aufa Salma Nur Azizy lahir di Bojonegoro pada Selasa Legi 4 Februari 2003. Sejak duduk di bangku TK sudah senang pada dunia seni, terutama seni tari hingga saat ini. Akan tetapi, sekarang kesukaan dan hobby-nya di bidang seni beralih ke seni rias, peran, dan fotografi. Selepas dari bangku SMA nanti berkeinginan mendalamnya seni rias dan fotografi di ISI Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar